REAKSI-REAKSI KIMIA

Standar

 

  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Tujuan Praktikum  : 1.  Untuk mengenal berbagai reaksi kimia.

  1. Untuk menentukan stoikiometri reaksi.

Waktu Praktikum   : Sabtu, 12 Oktober 2011

Tempat Praktikum : Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Mataram.

 

  1. LANDASAN TEORI

Persamaan reaksi merupakan bahasa ilmu kimia. Persamaan reaksi menjelaskan secara kualitatif peristiwa yang terjadi jika pereaksi bergabung dan secara kuantitatif menyatakan jumlah zat yang bereaksi serta jumlah produk reaksi. Dalam menuliskan persamaan reaksi, harus diketahui dengan benar rumus pereaksi dan rumus produk reaksi. Sebelum persamaan reaksi itu disetarakan. Macam-macam reaksi kimia yaitu reaksi sintetis (pembentukan senyawa dari unsur-unsurnya), reaksi metatesis (pertukaran antar senyawa), reaksi penetralan (reaksi asam-basa), dan reaksi redoks (Achmad, 2001:31-32).

Reaksi-reaksi kimia terjadi dimana-mana. Pada mesin mobil, gasolin dibakar untuk menyuplai energi untuk menggerakkan mobil, menghidupkan radio, dan menyalakan AC. Reaksi-reaksi kimia di dalam tubuh kita, menyediakan energi untuk menggerakkan otot-otot kita. Di dalam reaksi kimia terjadi di daun tumbuhan untuk mengubah CO2 ­(karbondioksida) dan air menjadi karbohidrat. Para ahli kimia menggunakan persamaan kimia untuk menggambarkan reaktan dan produk dari reaksi kimia. Sebagian besar reaksi kimia melibatkan proses kehilangan dan penangkapan energi. Laju reaksi diukur dengan mengamati laju reaktan. Dalam perubahan kimia, zat yang direaksikan berubah menjadi zat baru yang memiliki komposisi yang berbeda dan sifat yang berbeda. Sifat-sifat yang baru meliputi perubahan warna, perubahan suhu, dan terbntuknya gelembung atau suatu padatan. Reaksi-reaksi kimia selalu meliputi perubahan kimia, karena atom dari zat yang membentuk kombinasi baru memiliki sifat-sifat yang baru (Timberlake, 2004:186).

Stoikiometri adalah suatu cabang ilmu kimia yang membahas hubungan, bobot antara unsur-unsur senyawa dalam reaksi kimia. Adapun metode yang digunakan untuk menyatakan banyaknya zat terlarut dalam larutan. perhitungan stoikiometri yang melibatkan larutan adalah bobot molekul dan bobot rumus serta bobot ekuivalen. Tentu saja perhitungan stoikiometri dapat dilakukan baik dengan menggunakan mol ataupun ekuivalen dan manapun yang digunakan hasil haruslah sama (Day, 2001:51-53).

Reaksi-reaksi dasar melibatkan pemisahan, penggabungan, dan pertukaran. Dalam reaksi pemisahan, yaitu suatu campuran bahan akan terpisah menjadi dua tau lebih zat lain. AHsil dari reaksi ini haruslah elemen atau suatu campuran. Biasanya, salah satu produknya adalah gas dan air. Dalam reaksi penggabungan dua zat bergabung membentuk suatu campuran baru. Dalam reaksi pertukaran, suatu zat kimia memindahkan zat lainnya, di dalam suatu campuran kimia. Reaksi sperti ini melibatkan pasangan zat lainnya dalam reaksi pemisahan tunggal atau dua pasang zat jika dalam reaksi pemindahan rangkap. Reaksi reduksi-oksidasi adalah sangat penting dalam kimia. Reaksi itu terjadi dalam proses–proses yang berbeda, mencakup produksi besi,. pembakaran minyak, dan pertakaran. Baterai juga bergantung pada reaksi redoks. Satu konsep penting yang mendasari semuanya bahwa reaksi ini selalu terjadi secara berpasangan. Jika suatu reaksi oksidasi terjadi, suatu reaksi juga akan terjadi pada saat yang bersamaan (Gebelein, 2003:170-173).

Reaksi-reaksi senyawa kompleks dapat dibagi menjadi dua kategori, yaitu reaksi-reaksi subtitusi dan reaksi redoks. Masing-masing reaksi ini memiliki mekanisme yang berbeda –beda. Untuk reaksi subtitusi ada dua mekanisme yaitu proses dissociative dan proses displacement. Sedangkan reaksi redoks ada 2 macam, yaitu mekanisme transfer atom (disini reduktor dan oksidator terikat satu denga yang lain dengan jembatan atom, molekul atau ion, melalui jembatan ini electron berpindah dari satu atom ke atom yang lain) dan mekanisme transfer electron disini terjadi perpindahan electron dari atom satu ke atom lainnya (Sukardjo, 1985: 127).

Reaksi-reaksi kimia adalah proses dari perubahan kimia. Suatu material awal dinamakan reaktan. Zat yang dihasilkan atau terbentuk disebut produk. Botolan kimia yang terkumpul di laboratorium disebut bahan reaksi (reagen). Hanya ketika suatu bahan reaksi digunakan dalam suatu reaksi baru bahan tersebut disebut sebagai reaktan. Suatu persamaan kimia menggunakan rumus-rumus kimia untuk melambangkan perubahan kualitatif yang terjadi dalam reaksi kimia dan juga informasi kuantitaitf dimana tidak boleh ada atom yang terbentuk atau dihilangkan. Koefisien stoikiometri menunjukkan kepada kita jumlah relatif mol reaktan dan produk yang terdapat dalam reaksi adalah sangat ppenting untuk mengenal tipe-tipe reaksi kimia yang terjadi jikakita ingin memprediksi produknya. Kita bisa mengidentifkasi sesuatu reaksi berdasarkan karateristik sebagaimana yang dimiliki olehsalah satu dari tiga tipe berikut: Suatu reaksi pengendapan meliputi pembentukan suatu padatan yang tak larut dari larutan elektrolit. Reaksi penetralan meliputi suatu perubahan bilangan oksidasi dan meliputi transfer ion Hidrogen (H+) (Atkins, 1997: 78).

 

  1. ALAT DAN BAHAN
    1. Alat-alat praktikum
    2. Gelas kimia 100 mL
    3. Gelas kimia 250 mL
    4. Pipet tetes
    5. Pipet volum 10 mL
    6. Rak tabung reaksi
    7. Rubber bulb
    8. Spatula
    9. Tabung reaksi
    10. Termometer
    11. Tissue
      1. Bahan-bahan praktikum
      2. Larutan Al2(SO4)3   (Alumunium Sulfat)      0,1 M
      3. Larutan CH3COOH           (Asam Asetat)             0,05 M
      4. Larutan CuSO4                   (Tembaga Sulfat)                    0,05 M
      5. Larutan HCl                       (Asam Klorida)                1 M
      6. Larutan K2CrO4                       (Kalium Kromat)                             0,1 M
      7. Larutan K2Cr2O7      (Kalium Dikromat)              1 M
      8. Larutan NaOH                   (Natrium Hidroksida) 0,05 M
      9. Larutan NaOH                (Natrium Hidroksida)       1 M
      10. Larutan NaOH                (Natrium Hidroksida)        2 M
      11. Larutan NH4OH     (Amoniak)                     1 M

 

  1. PROSEDUR PERCOBAAN
    1. Reaksi kimia
      1. a.    Ke dalam 2 tabung reaksi, dimasukkan masing-masing dengan teapt 10 tetes larutan HCl 0,05 M dan larutan CH3COOH 0,05 M. Ditambhankan masing-masing 1 tetes larutan indicator. Diamati warna larutan-larutan tersebut.
      2. b.    Ke dalam 2 tabung reaksi lain, dimsaukkan larutan NaOH 0,05 M masing-masing 10 tetes. Ditambahkan keduanya 1 tetes larutan indicator PP.
      3. c.    Dicampurkan kedua asam (tabung a) dan kedua basa (tabung b). Diamati perubahan yang terjadi.
      4. d.   Ke dalam 2 tabung reaksi dimasukkan masing-masing 10 tetes larutan kalium kromat (K2CrO4) 0,1 M. Ke dalam tabung pertama tambahkan larutan HCl 1 M. Dikocok dan diamati. Larutan NaOH 1 M ditambahkan ke dalam tabung lainnya. Larutan disimpan.
      5. e.    Ke dalam 2 tabung reaksi dimasukkan masing-masing 10 tetes larutan kalium dikromat (K2Cr2O7) 0,01 M. Larutan HCl 1 M ditambahkan ke dalam tabung pertama. Dikocok dan diamati. Larutan NaOH 1 M ditambahkan ke dalam tabung lainnya. Larutan d dan e dibandingkan.
      6.    Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 10 tetes larutan Al2(SO4)3 0,1 M. Ditambahkan tetes demi tetes larutan NaOH 1 M dan diperhatikan perubahan yang terjadi.
      7. g.    Ke dalam tabung reaksi dimasukkan 10 tetes larutan Al2(SO4)3 0,1 M. Ditambahkan 5 tetes NH4OH 1 M. Ditambahkan lagi tetes demi tetes           NH4OH 1 M dan diamati. Dibandingkan dengan larutan f.
  2. Variasi kontinu
    1. Stoikiometri Sistem CuSO4 – NaOH

Digunakan larutan CuSO4 1 M dan NaOH 2M. Dimasukkan 20 ml NaOH 2M ke dalam gelas kimia dan dicatat cuhunya. Sementara diaduk, ditambahkan 5 ml larutan CuSO4 yang diketahui suhu awalnya. Diukur temperatur campuran (diusahakan suhu awal CuSO4 sama dengan suhu awal NaOH). Diulangi percobaan dengan menggunakan 15 ml NaOH dan 10 ml CuSO4, 10 NaOH dan 15 ml CuSO4, 5 NaOH dan 20 ml CuSO4.

  1. Stoikiometri Asam-Basa

Ke dalam gelas kimia dimasukkan berturut-turut 0,1,2,3,4,5,6 ml larutan NaOH 1M dan kedalam tabung reaksi lainnya dimasukkan berturut turut 6,5,4,3,2,1,0 ml HCl 1M. Diukur suhu awal masing masing larutan dan diambil rata-ratanya. Diukur suhu campuran.

 

  1. HASIL PENGAMATAN
No Prosedur Percobaan Hasil Pengamatan
1 Reaksi Kimia  
A. Kedalam tabung reaksi satu dimasukkan 10 tetes larutan HCl 0,05 M kemudian di tambahkan 1 tetes larutan indikator PP. di amati perubahan yang terjadi. Warna awal

HCl: bening

HCl+ larutan indicator PP=keruh

Ke dalam tabung reaksi dua, di masukkan 10 tetes larutan CH3COOH 0,05 M kemidian di tambahkan 1 tetes larutan indikator PP. Di amati perubahan yang terjadi. COOH: bening

COOH+ larutan indicator PP= ungu

 

B. Ke dalam tabung reaksi tiga, di masukkan 10 tetes larutan NaOH 0,05 M dan di tambahkan 1 tetes larutan indikator PP. Di amati perubahan yang terjadi. Larutan NaOH yang semula berwarna bening berubah menjadi merah setelah di tambahkan 1 tetes larutan indikator PP.
Ke dalam tabung reaksi empat, di masukkan 10 tetes larutan NaOH 0,05 M  kemudian di tambahkan 1 tetes larutan indikator PP. Di amati perubahan yang terjadi.
C. Pertama, tabung 1(asam) dicampur dengan tabung 3(basa). Di amati perubahan yang terjadi. Larutan NaOH yang semula berwarna merah  setelah di campur dengan larutan asam HCl hasilnya berubah menjadi warna ungu
Kedua, tabung 2 yang berisi asam di campur dengan basa pada tabung 4. Di amati perubahan yang terjadi. Larutan NaOH yang semula berwarna merah ternyata setelah di campur dengan larutan asam lemah(CH3COOH), ternyata warnanya berubah menjadi ungu
D. Kedalam tabung 1 di masukkan 10 tetes larutan K2CrO4 0,1 M di tambahkan dengan larutan HCl 0,1 M. Awalnya K2CrO4 0,1  M berwarna kuning. Setelah di tambahkan dengan 5 tetes larutan HCl 1 M warnanya berubah menjadi warna orange.
Ke dalam tabung 2 di masukkan 10 tetes larutan K2CrO4 0,1 M di tambahkan dengan larutan NaOH 1 M. Kedua larutan di kocok dan di amati kemudian di simpan untuk di bandingkan dengan percobaan e.. Awalnya larutan K2CrO4 0,1  M berwarna kuning, setelah di tambahkan dengan 2 tetes larutan NaOH 1 M warnanya tidak berubah/tetap berwarna kuning.
E. Pertama, ke dalam tabung 3 di masukkan 10 tetes larutan K2Cr2O7 0,1 M di tambahkan dengan larutan HCl 1 M Larutan K2Cr2O7 0,1 M yang semula berwarna orange. Setelah di tambahkan dengan larutan HCl 1 M warnanya tidak berubah/tetap berwarna orange.
Kedua, dalam tabung 3 di masukkan 10 tetes larutan K2Cr2O7 0,1 M di tambahkan dengan larutan NaOH 1 M. di kocok dan di amati. Larutan K2Cr2O7 0,1 M  yang semula berwarna orange, setelah di tambahkan dengan larutan NaOH 1 M ternyta warnanya berubah menjadi warna kuning.
  Perbandingan antara percobaan d dan e adalah:-  K2CrO4 0,1  M  setelah di tetesi larutan HCl 1 m warnanya mengalami perubahan sedangkan K2Cr2O7 0,1 M setelah di tetesi dengan larutan HCl 1 M tidak mengalami perubahan.- K2CrO4 0,1  M setelah di tetesi larutan NaOH 1 M tidak mengalami perubahan sedangkan K2Cr2O7 0,1 M jika di tetesi dengan larutan NaOH 1 M warnanya mengalami perubahan.
F. Ke dalam tabung reaksi di masukkan 10 tetes larutan Al2(SO4)3 0,1 M kemudian masukkan tetes demi tetes larutan NaOH 1 M. dan perhatikan apa yang terjadi. Awalnya larutan Al2(SO4)3 0,1 M berwarna keruh, setelah di tambahkan 3 tetes laritan NaOH 1 M warnanya berubah menjadi makin keruh (putih keruh) ada endapan.
G. Ke dalam tabung reaksi di masukkan 10 tetes larutan Al2(SO4)3 0,1 M kemudian di tambahkan 5 tetes larutan NH4OH 1 M. Dan tambahkan lagi tetes demi tetes larutan NH4OH 1 M. Di perhatikan perubahan yang terjadi kemudian di bandingkan dengan percobaan f. Al2 (SO4)3 ditambah 3 tetes NH4OH warnanya berubah menjadi keruh (putih keruh) ada endapan

.

2 Variasi Kontinu  
A. Pertama, kedalam gelas kimia di masukkan 20 mL larutan NaOH 2 M, suhu awalnya di catat. Kemudian di tambahkan 5 mL larutan CuSO4 1 M yang di ketahui suhu awalnya(di usahakan suhu awalnya sama dengan suhu NaOH 2 M). Kemudian di aduk. Suhu setelah di campur di catat sebagai TA, kemudian di cari ∆T nya. T20 mL NaOH 2 M = 29oC

T5 mL CuSO4 1 M = 29oC

TA (NaOH+CuSO4) = 29oC

∆T = TA – TM

= 29oC – 29oC

=0oC

 

Kedua, ke dalam gelas kimia di masukkan 10 mL larutan NaOH  2 M, suhu awalnya di catat. Kemudian di tambahkan dengan 15 mL larutan CuSO4 1 M. larutan ini di perlakukan seperti percobaan pertama. T10 mL NaOH 2 M = 29oC

T15 mL CuSO4 1 M = 29oC

TA (NaOH+CuSO4) = 31oC

∆T = TA – TM

=31oC – 29oC

=2 oC

Ketiga, ke dalam gelas kimia di masukkan 5 mL larutan NaOH 2 M, suhu awalnya di catat. Kemudian di tambahkan dengan  20 mL larutan CuSO4 1 M. larutan ini di perlakukan seperti percobaan pertama. T5 mL NaOH 2 M = 29oC

T20 mL CuSO4 1 M = 29oC

TA (NaOH+CuSO4) = 30oC

∆T = TA – TM

= 30oC – 29oC

=1oC

Ke empat, ke dalam gelas kimia di masukkan 15 mL larutan NaOH 2 M, suhu awalnya di catat. Kemudian di tambahkan dengan  10 mL larutan CuSO4 1 M. larutan ini di perlakukan seperti percobaan pertama. T15 mL NaOH 2 M = 29oC

T10 mL CuSO4 1 M = 29oC

TA (NaOH+CuSO4) = 29oC

∆T = TA – TM

= 29oC –29oC

=0oC

B. Stoikoimetri Asam-Basa  
1. Ke dalam 6 tabung reaksi dimasukkan berturut-turut 1,2,3,4,5, dan 6 mL larutan HCl 1 M. dan di catat suhu awal masing-masing. TM1 = 28oC

TM2 = 28oC

TM3 = 38oC

TM4 = 28oC

TM5 = 28oC

TM6 = 28oC

2. Ke dalam 6 tabung reaksi di masukkan berturut-turut 1,2,3,4,5, dan 6 mL larutan NaOH 1 M. Dan di catat suhu awal masing-masing. TMa = 30oC

TMb = 30oC

TMc = 30oC

TMd = 30oC

TMe = 30oC

TMf = 30oC

Kedua larutan di campur  sedemkian rupa sehingga volume campuran asam dengan basa selalu tetap (volume totalnya tetap) yaitu 6 mL. kemudian di hitung nilai suhu rata-rata larutan yang sudah di campur.  
6 mL HCl  TA = 28oC
1 mL NaOH di campur dengan 5 mL HCl   TA = 31oC
2 mL NaOH di campur dengan 4 mL HCl   TA = 31oC
3 mL NaOH di campur dengan 3 mL HCl   TA = 33oC
4 mL NaOH di campur dengan 2 mL HCl   TA = 32oC
5 mL NaOH di campur dengan 1 mL HCl   TA = 30oC
6 mL NaOH   TA = 30oC

 

  1. ANALISIS DATA
    1. Reaksi-reaksi kimia

Persamaan reaksi

  1. HCl(aq) + NaOH(aq)                          NaCl(s) + H2O(l)
  2. CH3COOH(aq) + NaOH(aq)               CH3COONa(s) + H2O(l)
  3. K2CrO4(aq) +  2HCl(aq)                                             H2CrO4(aq) + 2KCl(aq)
  4. K2CrO4(aq) +  2NaOH(aq)                              Na2CrO4(aq) + 2KOH(aq)
  5. K2CrO7(aq) +  2HCl(aq)                                             H2CrO7(aq) + 2KCl(aq)
  6. K2CrO7(aq) +  2NaOH(aq)                              Na2CrO7(aq) + 2KOH(aq)
  7. Al2(SO4)3(aq) + 6NaOH(aq)                3Na2SO4(aq) + 2Al(OH)3(l)
  8. Al2(SO4)3(aq) + 6NH4OH(aq)                  3(NH4)SO4(aq) + 2Al(OH)3(l)

 

  1. Variasi kontinu
    1. Stoikiometri sistem CuSO4 – NaOH

v  Perhitungan mol larutan CuSO4 1 M

  • Untuk 5 mL CuSO4 1 M

mol CuSO4                        = M . V

= 1 . 5

= 5 mmol

  • Untuk 10 mL CuSO4 1 M         

mol CuSO4                        = M . V

= 1 . 10

= 10 mmol

  • Untuk 15 mL CuSO4   1 M

mol CuSO4        = M . V

= 1 . 15

= 15 mmol

  • Untuk 20 mL CuSO4  1 M

mol CuSO4                    = M . V

= 1 . 20

= 20 mmol

 

v  Perhitungan larutan NaOH 2 M

  • Untuk 20 mL NaOH 2 M

mol NaOH                   = M . V

= 2 . 20

= 40 mmol

Untuk 15 mL NaOH 2 M

mol NaOH                   = M . V

= 2 . 15

= 30 mmol

Untuk 10 mL NaOH 2 M

mol NaOH                   = M . V

= 2 . 10

= 20 mmol

 

Untuk 5 mL NaOH 2 M

mol NaOH                   = M . V

= 2 . 5

= 10 mmol

 

 

v  Suhu mula-mula (Tm)

Tm                =

Tm1           =

=

= 29⁰C

Tm2       =

=

= 29⁰C

Tm3              =

=

= 29⁰C

Tm4              =

=

= 29⁰C

 

v  Perubahan suhu (

= TA (suhu akhir) – Tm (suhu awal)

1       = TA– Tm

= 29 – 29

= 0

2      = TA – Tm

= 29 – 29

= 0

3      = TA – Tm

= 31 – 29

 

4      = TA – Tm

= 30 – 29

= 1

 

Tabel

V NaOH (mL)

V CuSO4 (mL)

T NaOH (C)

T CuSO4 (C)

Tm

TA

mmol NaOH

mmol

CusO4

20

5

29

29

29

29

0

40

5

15

10

29

29

29

29

0

30

10

10

15

29

29

29

31

2

20

15

5

20

29

29

29

30

1

10

20

 

Grafik  terhadap mol CUSO4 – NaOH

CuSO4(aq) + 2NaOH(aq)                Cu(OH)2(aq) + Na2SO4(aq)

Perbandingan koordinat titik puncak

CuSO4 : NaOH  = 15 : 20

=   3 :  4

  1. Stoikiometri Asam – Basa

v  Perhitungan mol larutan

-          Untuk 0 mL NaOH 1 M

mol NaOH        = M . V

= 1 . 0

= 0 mmol

-          Untuk 1 mL NaOH 1 M

mol NaOH        = M . V

= 1 . 1

= 1 mmol

-          Untuk 2 mL NaOH 1 M

mol NaOH        = M . V

= 1 . 2

= 2 mmol

-          Untuk 3 mL NaOH 1 M

mol NaOH        = M . V

= 1 . 3

= 3 mmol

-          Untuk 4 mL NaOH 1 M

mol NaOH        = M . V

= 1 .4

= 4 mmol

-          Untuk 5 mL NaOH 1 M

mol NaOH        = M . V

= 1 . 5

= 5 mmol

-          Untuk 6 mL NaOH 1 M

mol NaOH         = M . V

= 1 . 6

= 6 mmol

v  Perhitungan mol larutan HCl 1 M

-          Untuk 6 mL HCl 1 M

mol HCl            = M . V

= 1 . 6

= 6 mmol

-          Untuk 5 mL HCl 1 M

mol HCl            = M . V

= 1 . 5

= 5 mmol

-          Untuk 4 mL HCl 1 M

mol HCl            = M . V

= 1 . 4

= 4 mmol

-          Untuk 3 mL HCl 1 M

mol HCl            = M . V

= 1 . 3

= 3 mmol

-          Untuk 2 mL HCl 1 M

mol HCl            = M . V

= 1 . 2

= 2 mmol

-          Untuk 1 mL HCl 1 M

mol HCl            = M . V

= 1 . 1

= 1 mmol

-          Untuk 0 mL HCl 1 M

mol HCl            = M . V

= 1 . 0

= 0 mmol

v  Suhu mula-mula (Tm)

-          0 mL NaOH 1 M dan 6 mL HCl 1 M

Tm= T HCl

= 28⁰C

-          1 mL NaOH 1M dan 5 ml HCl 1 M

Tm2  =

=

=

= 28⁰C

-          2 mL NaOH 1 M dan 4 mL HCl 1 M

Tm=

=

=

= 28⁰C

-          3 mL NaOH 1 M dan 3 mL HCl 1 M

Tm= =

=

=

= 28⁰C

-          4 mL NaOH 1 M dan 2 mL HCl 1 M

Tm5  = =

=

=

= 29⁰C

-          5 mL NaOH 1 M dan 1 mL HCl 1 M

Tm=

=

=

= 28,5⁰C

-          6 mL NaOH 1 M dan 0 mL HCl 1 M

Tm= T NaOH

= 30⁰C

v  Suhu akhir (

         = TA (suhu akhir) – Tm (suhu awal)

1       = TA – Tm1

= 28 – 28

= 0

2       = TA – Tm2

= 31 – 28

= 3

3       = TA – Tm3

= 31 – 28

= 3

4       = TA – Tm4

= 33 – 28

= 5

5       = TA – Tm5

= 32 – 29

= 3

6       = TA – Tm6

= 31 – 28,5

= 2,5

7       = TA – Tm7

= 30 – 30

= 0

Tabel

V NaOH (mL)

V HCl(mL)

T NaOH (C)

T HCl (C)

Tm

(C)

TA

(C)

mmol NaOH

mmol

HCl

0

6

0

28

28

28

0

0

6

1

5

28

28

28

31

3

1

5

2

4

28

28

28

31

3

2

4

3

3

28

28

28

33

5

3

3

4

2

30

28

29

32

3

4

2

5

1

28

29

28,5

31

2,5

5

1

6

0

30

0

30

30

0

6

0

Grafik hubungan  dengan jumlah mol pereaksi

 

 

v  HCl(aq) + NaOH(aq)                                NaCl­(s) + H2O(l)

Perbandingan koordinat titik puncak

HCl : NaOH         = 3 : 3

= 1 : 1

  1. PEMBAHASAN

Reaksi kimia tidak lain adalah proses terjadinya perubahan kimia. Dimana zat-zat reaktan akan diubah membentuk zat baru dengan komposisi dan sifat yang berbeda dari asalnya. Reaksi-reaksi ini antara lain reaksi asam-basa, reaksi redoks, reaksi metatesis, rekasi sintesis, dan sebagainya.

Untuk mengidentifikasi suatu larutan bersifat asam atau basa, biasanya digunakan larutan indicator PP. Ketika larutan indicator PP ditambhkan ke dalam suatu larutan asam, maka larutan akan menjadi bening, sedangkan ketika larutan indicator PP ditambhakan ke dalam suatu larutan basa, warna campurannya menjadi ungu dan biasanya merah muda, tergantung dari kekuatan basa tersebut. Hal inilah yang menyebabkan ketika larutan indicator PP ditambhkan ke dalam larutan HCl 0,05 M warnanya menjadi keruh sedangkan ketika ditambahkan ke dalam larutan NaOH, warna campurannya menjadi merah.

Reaksi yang terjadi antara suatu asam dengan suatu basa sering dikenal dengan istilah titrasi. Reaksi ini berguna untuk mengetahui konsentrasi dan PH suatu larutan. Ketika konsentrasi zat lainnya diketahui. Reaksi ini akan menghasilkan sutu campuran kimia baru yang sifatnya tergantung pada kuat lemahnya sifat larutan penyusunnya. Sifat larutan baru ini dapat dilihat dari warnanya seperti pencampuran antara larutan NaOH 0,05 M dan larutan HCl 0,05 M, warna larutan yang terbentuk adalah ungu, menunjukkan larutan campuran bersifat basa. Seharusnya larutan campuran ini bersifat asam dan yang menyebabkan perubahan warna memungkinkan ketika menambahkan larutan indicator PP secara berlebihan atau kekurangan. Dan ketika larutan NaOH dicampur dengan CH3COOH, warna campuran adalah ungu, membuktikan larutan bersifat basa.

Reaksi reduksi-oksidasi (redoks) merupakan reaksi yang menyebabkan perubahan bilangan oksidasi (biloks) pereaski-pereaski yang bersangkutan. Selain itu terjadi perubahan warna larutan sebagai ciri terjadinya reaksi. Ketika HCl direasksikan dengan K2CrO4 dan K2CrO7, H mengalami oksidasi pada tiap reaksi naik dari +1 menjadi +2, K megalami reduksi, karena biloks K turun dari +2 menjadi +1. Dan ketika larutan NaOH 1 M direkasikan dengan K2CrO4 0,1 M dan larutan K2CrO7 0,01 M, atom K mengalami reduksi sama dengan reaksi sebelumnya, sedangkan Na mengalami oksidasi, naik dari +1 menjadi +2. Perubahan warna yang terjadi antara larutan HCl 0,05 M dengan larutan K2CrO4 berubah warna menjadi orange. Sedangkan ketika larutan HCl direaksikan dengan K2CrO4 juga berwarna orange. Untuk larutan NaOH 1 M direaksikan dengan larutan K2CrO4 0,1 M dan larutan larutan K2CrO7 0,01 M, warna larutan berubah menjadi kuning.

Garam dari campuran antara suatu asam dengan suaatu basa dapat membentuk suatu larutan penyangga (buffer). Untuk mengetahui kekuatan buffer dalam mempertahankan sifat larutan, maka diuji dengan penambahan suatu asam atau basa. Pada percobaan larutan Al2(SO4)3 sebagai buffer ditambahkan larutan NaOH warnanya menjadi putih keruh, sedangkan ketika ditambhakan larutan NH4OH warnanya menjadi putih keruh dan terdapat adanya endapan.

Variasi kontinu merupakan suatu metode sederhana untuk menentukan stoikiometri reaksi, yaitu dengan mengamati sederetan reaksi yang kuantitas mol pereaksinya diubah akan tetapi mol total untuk semua pasangan variasi adalah sama. Pada penentuan stoikiometri reaksi  antara CuSO4 dan NaOH, serta stoikiometri larutan NaOH dan HCl, yang dilihat adalah perubahan suhu ( ). Pada percobaan larutan CuSO4 dengan larutan NaOH campuran berubah warna menjadi biru muda dan biru tua tergantung dari volume CuSO4 dan NaOH. Semakin banyak volume larutan CuSO4 maka larutan menjadi biru tua dan terdapat banyak endapan. Sebaliknya jika larutan NaOH lebih banyak dari larutan CuSO4 maka warnya akan menjadi biru muda dan terdapat sedikit endapan. Dari percobaan didapatkan titik puncak berada pada  = 2  dengan perbandingan 3 : 4. Sedangkan pada percobaan stoikiometri larutan NaOH dan larutan HCl ditemukan koordinat titik puncak pada  = 5  dengan perbandingan antara dengan mol pereaksinya 1 : 1.

  1. PENUTUP
    1. Kesimpulan

Dari hasil percobaabn dapat disimpulkan terjadi berbagai macam reaksi diantaranya reaksi asam-basa, reaksi redoks, dan reaksi sintesis, dimana perubahan reaksi ditandai dengan terjadinya perubahan warna.

  1. Saran
    1. a.    Kepada praktikan sebaiknya membantu praktikan kerja kelompok apabila bagian percobaannya telah selesai.
About these ads

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s