ANALISIS KUANTITATIF: ASIDMETRI DAN ALKALIMETRI

Standar
  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Tujuan Praktikum

–            Menentukan konsentrasi NaOH dengan larutan baku asam oksalat.

–            Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH.

Waktu Praktikum

Kamis, 29 Maret 2012

Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA Universitas Mataram.

 

  1. LANDASAN TEORI

Beberapa cara analisis kuantitatif dengan metode polarografi dapat digunakan yaitu cara-cara kurva kalibrasi, standar adisi, dan titrasi volumetri. Dengan cara-cara kurva kalibrasi sederet larutan standar disiapkan dan dilakukan pengukuran polarografi, kemudian dibuat kurva kalibrasi. Larutan cuplikan diukur dengan kondisi yang sama dengan pengukuran larutan standar. Konsentrasi cuplikan diperoleh dari kurva kalibrasi dengan cara memplotkan id yang diperoleh untuk cuplikan. Dengan adisi, pertama-tama larutan cuplikan dengan volume V1 diukur harga arus difusinya id-1, larutan standar yang konsentrasinyas ditambahkan ke dalam larutan cuplikan yang sudah diukur tadi dengan volume V2 kemudian diukur harga arus difusinyauntuk cuplikan saja. Bila konsentrasi cuplikan dimisalkan x maka dapat disusun (Cotton, 2007 : 126).

id-1 = x

id-2 =

Diperoleh:

Cara selanjutnya yaitu titrasi mamperometri. Metode polarografi dapat digunakan untuk menentukan titik ekivalen suatu titrasi bila salah satu atau kedua pereaksi dapat direduksi pada permukaan electrode dan dilakukan pada harga potensial tertentu.

Larutan yang telah diketahui konsentrasinya disebut dengan titran. Titran ditambahkan sedikit demi sedikit (dari dalam buret) pada titrat (larutan yang dititrasi sampai terjadi perubahan warna indicator baik titrat maupun titran biasanya berupa larutan. Saat terjadi perubahan warna indicator baik titrat, dan titran, maka titrasi dihentikan. Saat terjadi perubahan warna indicator dan titrasi di akhiri disebut dengan titik akhir titrasi dan diharapakan titik akhir titrasi sama dengan titik akhir ekivalen. Semakin jauh tititk akhir titrasi dengan titik ekivalen maka semakin besar kesalahan titrasi dan oleh karena itu, pemilihan indicator menjadi sangat penting agar warna indikator berubah saat titik ekivalen tercapai. Pada saat tercapai titik ekivalen maka PH-nya 7 (netral). Syarat zat yang bias dijadikan standar primer:

  1. Zat harus 100% murni.
  2. Zat tersebut harus stabil baik pada suhu kamar ataupun pada waktu dilakukan pemanasan, standar primer biasanya dikeringkan terlebih dahulu sebelum ditimbang.
  3. Mudah diperoleh.
  4. Biasanya zat standar primer memiliki massa molar (Mr) yang besar, hal ini untuk memperkecil kesalahan pada waktu proses penimbangan. Menimbang zat dalam jumlah besar relative memiliki kesalahan yang lebih kecil.
  5. Zat tersebut juga harus memenuhi syarat teknik titrasi (Anonim, 2009).

Asidimetri dan alkalimetri termasuk reaksi netralisasi yakni antara ion hidrogen yang berasal dari asam dengan ion hidroksida yang berasal dari basa untuk menghasilkan air yang bersifat netral. Netralisasi dapat juaga dikatakan sebagai reaksi antara donor proton (asam) dan dengan penerima proton (basa). Salah satu kegunaan reaksi netralisasi adalah untuk menentukan konsentrasi asam atau basa yang tidak diketahui. Penentuan konsentrasi ini dilakukan dengan titrasi asam basa. Titrasi adalah cara penetuan konsentrasi suatu larutan dengan volume tertentu dengan menggunakan larutan yang sudah diketahui konsentrasinya. Bila titrasi menyangkut titrasi asam basa maka disebut dengan titrasi aside-alkalimetri. Asidi dan alkalimetri ini melibatkan titrasi basa yang terbentuk karena hidrolisis garam yang berasal dari asam lemah (basa bebas) dengan suatu asam standar (asidimetri) dan titrasi yang terbentuk dari hidrolisis garam yang berasal dari basa lemah (asam bebas) dengan suatu basa standar (alkalimetri) (Chang, 2005 : 82-83).

Proses penambahan larutan standar sampai reaksi tepat lengkap, disebut titik akhir titrasi. Titik dimana reaksi itu tepat lengkap disebut ini maka proses titrasi dihentikan. Kemudian dapat diketahui volume titer yang diperlukan untuk mencapai keadaan tersebut. Dengan menggunakan data volume titran, volume dan konsentrasi titer, maka kadar titran dapat dihitung. Lengkapnya, titrasi harus terdeteksi oleh penambahan suatu perubahan, yang tak dapat disalah lihat oleh mata, yang dihasilkan oleh larutan standar (biasanya ditambahkan dari dalam sebuah buret) itu sendiri, atau lebih lazim lagi, oleh penambahan suatu reagensia pembantu yang dikenal sebagai indicator (Murray, 2001: 56).

 

  1. ALAT DAN BAHAN PRAKTIKUM
    1. Alat-alat Praktikum

–          Buret 50 mL

–          Corong kaca 50 mm

–          Erlenmeyer  250 mL

–          Gelas kimia 250 mL

–          Gelas ukur 50 mL

–          Klem

–          Pipet tetes

–          Statif

  1. Bahan-bahan Praktikum

–          Larutan NaOH 0,1 M

–          Larutan HCl 0,1 M

–          Larutan (COOH)2 0,05 M

–          Larutan fenolftalein/pp

 

  1. PROSEDUR PERCOBAAN
    1. Pembuatan larutan baku primer asam oksalat
    2. Ditimbang asam oksalat 6,3035 gram dengan teliti.
      1. Dilarutkan dalam aquades dalam labu takar sampai 1000 mL.
      2. Ditentukan konsentrasi larutan baku asam oksalat, dengan rumus:

Konsentrasi larutan =

Standarisasi

  1. Dibilas dengan larutan NaOH buret yang telah bersih dan siap untuk dipakai sebanyak 3 kali @ , lalu diisi larutan NaOh sebanyak 50 mL.
  2. Dimasukkan larutan baku asam oksalat yang telah dibuat sebanyak 20 mL dalam erlenmeyer.
  3. Ditambahkan 4 tetes indicator fenolftalein.
  4. Dicatat keadaan kolom dalam buret lalu diteteskan NaOH dari buret kedalam larutan asam dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna dari tak berwarna menjadi merah muda.
  5. Dicatat keadaan akhir buret dan jumlah NaOH yang dipakai ialah selisih antara keadaan semula dengan keadaan akhir buret.

 

  1. Penentuan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH
  2. Dilarutkan HCl yang akan ditentukan ke dalam Erlenmeyer sebanyak 20 mL.
  3. Ditambahkan 4 tetes indicator fenolftalein.
    1. Dimasukkan NaOh yang telah ditentukan terhadap larutan baku primer asam oksalat ke dalam buret.
    2. Dicatat keadaan akhir kolom dalam buret, lau NaOH diteteskan ke dalam larutan HCl dengan hati-hati sampai terjadi perubahan warna, dari tak berwarna menjadi merah muda.
    3. Dicatat keadaan akhir buret dan jumlah NaOH yang dipakai, ialah selisih antara keadaan semula dengan keadaan akhir buret.

 

  1. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

 

  1. ANALISIS DATA
    1. Persamaan Reaksi
  • 2NaOH(aq) + (COOH)2 (aq) →(COONa)2(aq) + 3H2O(l)
  • HCl(aq) + NaOH(aq)  → NaCl(aq) + H2O(l)
  1. Perhitungan
    1. Menentukan konsentrasi larutan baku primer asam oksalat.

gr   (COOH)2.2H2O         = 6,3035 gram

Mr (COOH)2.2H2O          = 126,070 mol/gr

V aquades (pelarut)          = 1000 mL

M (COOH)2.2H2O           =

=

= 0,05 M

  1. Menentukan konsentarsi NaOh dengan larutan asam oksalat (Asidimetri).

V NaOH                          = 7,8 mL

M (COOH)2.2H2O           = 0,05 M

V (COOH)2.2H2O            = 20 mL

X NaOH                          = 1

X (COOH)2.2H2O            = 2

V NaOH x M NaOH x X NaOH = M(COOH)2 x V (COOH)2 x X (COOH)2

7,8    x  M NaOH x      1        =         0,05    x         20        x        2

M NaOH                   =

M NaOH                   = 0,26 M

  1. Menentukan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH (Alkalimetri).

V HCl      = 20 mL

V NaOH  = 10 mL

M NaOH  = 0,26 M

X NaOH  = 1

X HCl      = 1

M NaOH x M NaOH x X NaOH            = M HCl x V HCl x X HCl

0,26     x     20        x    1          = M HCl x    20     x    1

M HCl                      =

=

= 0,13 M

 

  1. PEMBAHASAN

Pada praktikum kali ini, percobaan analisis kuantitatif: asidimetri dan alkalimetri lebih difokuskan pada titrasi volumetri. Yang dimaksud dengan titrasi adalah penetuan konsentrasi ssuatu larutan dengan menggunakan larutan lain yang sudah diketahui konsentrasinya. Pada percobaan ini digunakan larutan baku asam oksalat dan larutan baku sekunder yaitu NaOH. Dalam hal ini yan g dimaksud dengan larutan baku adalah larutan yang telah diketahui konsentrasinya dan biasanya berupa larutan asam atau basa yang mantap (konsentrasinya tidak mudah berubah). Larutan baku primer adalah larutan yang konsentrasinya diperoleh dengan cara menimbang kemudian dilarutkan dalam air sehingga konsentrasinya dapat dihitung. Sedangkan larutan baku sekunder adalah larutan yang konsentrasiny diperoleh dengan cara dititrasi dengn larutan baku primer.

Pada kedua percobaan setiap larutan yang dalam erlenmeyer ditambhakan indicator pp yang berfungsi sebagai katalis, namun tidak memengaruhi hasil reaksi. Pada percobaan penentuan konsentrasi NaOH melibatkan tiran dan titre. Titran adalah larutan yang sudah diketahui konsentrasinya, dalam hal ini NaOH sebagai titran. Titre adalah larutan yang akan ditentukan konsentrasinya, (COOH)2 sebagai titre. Percobaan ini adalah percobaan asidimetri.

Ketika titrasi antara NaOH dan asam oksalat dilakukan, diperoleh titik akhir titrasi yang menunjukkan adanya perubahan warna yang cukup signifikan. Dimana larutan asam oksalat yang pada awalnya berwarna bening setelah ditetesi titran sedikit demi sedikit hingga warna larutan berubah menjadi merah muda, namun agak sedikit pekat. Hal ini dikarenakan NaOH yang ditambahkan berlebih. Sehingga hal tersebut juga mempengaruhi nilai konsentrasi NaOH. Berdasarkan hasil pengamatan dan analisis data diperoleh konsentrasi NaOH sebesar 0,26 M. Hal ini sedikit berbeda dengan kebenaran bahwa NaOH yang digunakan memiliki konsentrasi 0,1 M. Hal ini terjadi dipengaruhi banyak factor diantaranya kelebihan NaOH saat melakukan titrasi, larutan indicator fenolftalein yang ditambahkann tidakk sesuai, kurang memperhatikan titre saat ditetesi titran, karena lebih satu tetes saja larutan titran, maka titre berubah menjadi warna pekat.

Untuk penetuan konsentrasi larutan HCl dengan larutan NaOH. Larutan HCl ditambah larutan indicator PP juga yang berfungsi sebagai katalis. Pada percobaan ini titrasi yang dilakukan dapat dikatakan bagus karena perubahan warna larutan HCl +PP yang ditetesi NaOH dari warna bening berubah mejadi merah muda. Hal ini menunjukkan titik akhir titrasi telah tercapai dengan baik. Berdasarkan analisis data diperoleh konsentrasi HCl adalah 0,13 M. Hal ini membuktikan bahwa percobaan berhasil membuktikan konsentrasi HCl sebesar 0,1 M, dan merupakan percobaan alkalimetri.

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan hasil pengamatan dan percobaan yang dilakukan diperoleh beberapa kesimpulan:

  • Konsentrasi NaOH yang didapat dengan cara dititrasi dengan larutan baku primer asam oksalat sebesar 0,26 M.
  • Konsentrasi larutan HCl yang diperoleh sebesar 0,1 M dari hasil penitrasian larutan NaOH.

 

Anonim. 2009. Titrasi Asam Basa. Diunduh di http://belajarkimia.com. Diakses Pada: Minggu, 16 April 2012. Jam: 20:53 WITA. Mataram.

Chang, Raymond. 2005. Kimia Dasar Konsep-Konsep Inti. Jakarta : Erlangga.

Cotton dan Wilkinson. 2007. Kimia Analisis. Jakarta : Universitas Indonesia Press.

Murray, Robert K. 2001. Biokimia Harper. Jakarta : Penerbit Buku Kedokteran EGC.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s