KOLOID DAN SENYAWA KARBON I

Standar

  1. PELAKSANAAN PRAKTIKUM

Tujuan Praktikum

–            Untuk mempelajari cara pembuatan koloid dengan cara dispersi.

–            Untuk mengetahui cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi.

–            Untuk mengetahui jenis-jenis koloid (emulsi).

–            Untuk mengetahui sifat adsorpsi koloid.

–            Untuk mengetahui cara pembuatan sabun.

–            Untuk mempelajari denaturasi protein.

Waktu Praktikum

Kamis, 3 Mei 2012

Tempat Praktikum

Laboratorium Kimia Dasar, Lantai III, Fakultas MIPA Universitas Mataram.

  1. LANDASAN TEORI

Dispersi koloid bersifat heterogen,terdiri atas fase dispersi dan medium pendispersi. Sol adalah dispersi koloid zat padat dalam zat cair. Butir – butis koloid selalu bergerak menjalani geak zig – zag, yang disebut geak brown. Gerakan ini disebabkan adanya benturan benturan molekul pelarut terhadap butir – butir koloid. Butir – butir koloid mempunyai sifat listrik karena menyerap ion atau molekul medium dari larutan. Emulsi adalah dispersi koloid zst cair dalamzat cair yang lainyang tidak bercampur. Koloid ini dapat dibuat dengan mengaduk campuran dua zat cair tersebut, agar stabil, perlu diberikan kedalamnnya suatu emulgator,seperti macam – macam sabun, alkana sulfat, atau sulfat yang panjang (Sukardjo, 2003 : 102).

Aliran koloid berhubungan dengan cepat difusi (gerak). Thimas Graham banyak mempelajari tentang kecepatan difusi partikel materi sehingga ia dapat merumuskan hukum tentang difusi. Dari pengamatannya ternyata gerakan partikel zat dalam larutan ada yang cepat ada yang lambat. Umumnya yang berdifusi cepat adalah zat yang berupa kristal sehingga disebut kristaloid, contohnya NaCl dalam air. Akan tetapi, istilah tidak populer karena ada zat yang bukan kristal berdifusi cepat, contohnya HCl dan H2SO4, yang lambat berdifusi diseebabkan oleh partikelnya mempunyai daya tarik (perekat) satu sama lain, contohnya putih telur dalam air, zat ini disebut koloid (Glorier, 2004 : 250-251).

Muatan koloid ditentukan oleh muatan ion yang terserap permukaan koloid. Elektroforesis adalah gerakan partikel koloid karena pengaruh medan listrik, karena partikel koloid mempunyai muatan maka dapat bergerak dalam medan listrik. Jika ke dalam koloid dimasukkan arus searah melaui elektroda negatif dan sesampaidi electrode negatif akan terjadi penetralan muatan dan koloid akan menggumpal (koagulasi). Contoh: cerobong pabrik yang dipasangi lempeng logam yang bermuatan listrik dengan tujuan untuk menggumpalkan debunya (Fajar, 2003 : 98).

Koagulasi koloid adalah penggumpalan koloid karena elektrolit yang muatannya berlawanan. Faktor-faktor yang menyababkan koagulasi antara lain: perubahan suhu, pengadukan, penambahan ion dengan muatan besar (contoh: tawas), pencampuran koloid positif dan koloid negatif. Koloid akan mengalami koagulasi dengan cara mekanik dan kimia. Secara mekanik adalah dilakukan dengan pemanasan, pendinginan atau pengadukan cepat. Sedangkan dengan cara kimia yaitu dengan penambahan elektrolit (asam, basa, atau garam). Dengan mencampurkan 2 macam koloid dengan muatan yang berlawanan maka koloid akan menggumpal. Contoh: Fe(OH)3 yang bermuatan positif akan menggumpal jika dicampur As2S3 yang bermuatan negative (Bresnick, 2002 : 101-102).

Pembuatan koloid dilakukan dengan dua cara, yaitu cara kondensasi dan cara dispersi. Cara kondensasi dilakukan dengan cara penggumapalan partikel yang sangat kecil. Penggumpalan partikel ini dapat dilakukan dengan cara sebagai berikut: (Harjadi, 2000 : 152-154).

  1. Reaksi pengendapan, pembuatan sistem koloid dengan cara ini dilakukan dengan mencampurkan larutan elektrolit sehingga menghasilkan endapan.
  2. Reaksi hidrolisis, yaitu reaksi suatu zat dengan air.
  3. Reaksi redoks, koloid dapat terbentuk dari hasil reaksi redoks.
  4. Reaksi pengenceran, yaitu pembuatan koloid dengan cara mengalirkan gas ke dalam larutan encer pada suhu tertentu.
  5. Reaksi pergantian pelarut.

Sedangkan pembuatan koloid dengan cara disperse yaitu cara memperkecil partikel suspensi yang terlalu besar menjadi partikel koloid, pemecahan partikel-partikel kasar menjadi koloid. Adapun pembuatannya dengan beberapa cara:

  1. Cara mekanik, ukuran partikel suspensi diperkecil dengan cara penggilingan zat padat,denga menghaluskan butiran besar kemudian diaduk dalam medium pendispersi.
  2. Cara peptisasi, pembuatan koloid dengan menambahkan ion sejenis, sehingga partikel endapan akan dipecah.
  3. Cara busur bredia/bredig dilakukan dengan mencelupkan 2 elektrode yang dialiri listrik ke dalam air, sehingga kawat logam akan membentuk partikel koloid berupa debu di dalam air.
  4. Cara ultrasonik yaitu penghancuran butiran besar dengan ultrasonic (frekuensi > 20.000 Hz).

Aspek-aspek yang dibahas mengenai pengaruh waktu pengadukan pelan pada pralakuan koagulasi adalah efektivitas proses koagulasi-flokulasi terhadap penyisishan padatan terlarut dan zat organic dari air umpan. Sedangkan pada aspek kinerja membran mikrofiltarsi, dibahas pengaruh waktu pengadukan pelan koagulan terhadap fluks permeasi dan % rejeksi membran berdasarkan TDS dan COD-nya pada tiap variasi waktu. Efektifitas koagulasi berdasarkan TDS menyatakan persen penyisihan padatan tersebut (dissolve solid) akibat proses koagulasi (Karamah : 6-7).

 

  1. ALAT DAN BAHAN
  • Alat-alat Praktikum
    • Bunsen
    • Corong 60 mm
    • Corong 90 mm
    • Gelas kimia 250 mL
    • Gelas kimia 50 mL
    • Gelas ukur 100 mL
    • Gelas ukur 50 mL
    • Korek
    • Mortar
    • Pengaduk
    • Penggerus
    • Penjepit
    • Pipet tetes
    • Pipet volum 5 mL
    • Rak tabung reaksi
    • Rubber bulb
    • Sendok
    • Spatula
    • Stopwatch
    • Tabung reaksi
    • Bahan-bahan Praktikum
      • Air kran
      • Aquades
      • Detergen
      • Garam dapur
      • Gula pasir
      • Kertas lakmus
      • Kertas saring
      • Larutan Benzena
      • Larutan CaCl2
      • Larutan CuSO4 1
      • Larutan Etanol
      • Larutan FeCl3
      • Larutan HgCl2 1%
      • Larutan HNO3 pekat
      • Larutan Iodine
      • Larutan NaCl jenuh
      • Larutan NaOH 40
      • Larutan NaOH 6M
      • Larutan Na-oleat (minyak kelapa)
      • Larutan Pb asetat
      • Norit
      • Putih telur
      • Tepung kanji

 

  1. PROSEDUR PERCOBAAN
    1. Pembuatan Koloid

–            Dimasukkan kira-kira 1,5 gram As2S3 ke dalam labu Erlenmeyer yang berisi 100 mL air.

–            Dipanaskan campuran sampai mendidih, didinginkan sampai suhu kamar, lalu larutan di dekantasi.

–            Dimasukkan 250 mL aquades kemudian di jenuhkan dengan H­2S di dalam labu Erlenmeyer yang lain.

–            Ditambahkan arsen perlahan-lahan setelah larutan jenuh sementara H­2S dialirkan.

–            Disimpan larutan untuk percobaan II.

v  Koloid Fe(OH)3

–            Dipanaskan samapai mendidih 50 mL air dalam bejana gelas.

–            Ditambhakan setetes demi setetes larutan FeCl3 jenuh sambil diaduk sampai merah coklat.

–            Disimpan larutan ini untuk percobaan II.

  1. Koagulasi

–            Dicampurkan 1 mL koloid Fe(OH)­3 dan 1 mL koloid Arsen (II) sulfida.

  1. Dispersi

–            Diambil satu sendok amylum dan dicampurakan dengan 10 mL air dalam gelas kimi.

–            Diaduk dengan spatula dan disaring (Filtrat A).

–            Diambil pula satu sendok amylum dan digerus dalam mortar dengan 10 mL air dan kemudian campuran disaring (Filtrat B).

–            Dibandingkan filtrat A dan filtrat B, kemudian filtrat B ditambahkan beberapa tetes iodium.

  1. Emulsi

–            Di dalam suatu tabung reaksi yang bersih, dimasukkan n1 mL benzena, ditambahkan 10 mL aquades, dan dikocok dengan keras, dan diamati.

–            Diletakkan ntabung reaksi itu pada rak, dan diperhatikan waktu yang diperlukan untuk pemisahan kedua zat cair menjadi dua lapisan.

–            Ditambhakan 15 tetes larutan Na-oleat ke dalam campuran larutan benzena dan aquades, dikocok dan didiamkan 10-15 menit.

  1. Pembuatan Gel

–            Dimasukkan 15 mL larutan kalsium asetat jenuh ke dalam gelas kimia.

–            Dimasukkan 85 mL C2H5OH  95 % ke dalam suatu bejana kimia,larutan dicampurkan dengan segera.

–            Dimasukkan sedikit gel dalam cawan penguap kemudian dibakar.

  1. Adsorpsi

–            Dilarutkan 1 sendok porselin gula pasir ke dalam 10 mL air dalam suatu tabung reaksi.

–            Ditambahkan setengah sendok norit dan diletakkan tabung reaksi ke dalam bejana gelas yang berisi air panas.

–            Dikocok tabung reaksi berkali-kali selama 10 menit, disaring isinya ke dalam sutau tabung reaksi lain yang bersih.

–            Dibandingkan warna akhir dengan warnalarutan sebelumnya.

  1. Lemak (Penyabunan dan pembuatan sabun)

v  Diperiksa larutan sabun denan kertas lakmus.

–            Dimasukkan 50 mL NaOH 40 % ke dalam gelas kimia.

–            Dimasukkan 5 mL Na-oleat dan 5 mL etil alkohol

–            Dipanaskan dengan hati-hati sambil terus diaduk.

–            Diteruskan pemanasan samapai 15 menit, jika air dan alcohol telah menguap dan isi gelas kimia telah padat, ditambahkan air.

–            Didinginkan dan ditambahkan 40 mL alrutan NaCl jenuh, kemudian disaring dan dibilas dengan air dingin.

–            Jika masih lengket, ditambhakan lagi alcohol dan larutan NaOh lalu dipanaskan.

v  Dibuat larutan sabun dengan melarutkan setengah dari sabun yang diperoleh dalam 100 mL aquades.

–            Ditambahkan 5 mL CaCl2, dikocok dan dicatat perubahannya.

v  Dilarutkan 1 gram detergen dalam 10 mL air.

–            Ditambahkan 2-3 tetes larutan ini ke dalam 10 mL dari:

  • Aquades yang mengandung beberapa tetes larutan CaCl2.
  • Air kran.
  • Aquades.

–            Dicatat perubahan yang terjadi.

  1. Protein

–            Dimasukkan 2 mL putih telur dan ditambahkan 12 mL air, diaduk dengan baik.

–            Ditambahkan sedikit garam apabila larutan yang terjadi tidak bening.

–            Disediakan 5 tabung reaksi dan dimasukkan ke dalamnya masing-masing 2 mL larutan putih telur yang telah dibuat.

–            Dilakukan percobaan berikut:

  • Ditambhakan 1 mL larutan CuSO4 1 % dan diteteskan ke dalamnya larutan NaOH 6 M pada tabung pertama.
  • Ditabung kedua ditambhakna 1 mL larutan HNO3 pekat. Dipanaskan dan setelah dingin ditambahkan NaOH 6 Msambil dikocok.
  • Ditabung ketiga ditambhakan 1 mL HgCl­2 1 %.
  • Ditabung keempat ditambahkan 1 mL NaOH 6 M. Dipanaskan dan dicium uap yang keluar serta diperiksa uapnya dengan selembar kertas lakmus yang basah.
  • Ditabung kelima ditambhakna beberapa tetes Pb(OAc)2 dan 1 mL NaOH  6 M dan dipanaskan.

 

  1. HASIL PENGAMATAN

(Terlampir).

 

  1. ANALISIS DATA

Persamaan reaksi:

  1. Pembuatan koloid Fe(OH)3

FeCl3(aq) + 3H2O(l)→ Fe(OH)3(s) + 3HCl(aq)

2.   Lemak ( pembuatan sabun )

  • ( C17H35COO)3C3H3 + 3 NaOH                      3C13H35COONa + C3H3(OH)3
  • ( RCO2 )C3H5  + 3 NaOH                              3CONa + C3H5( OH )3

Secara keseluruhan

O

CH2       O        C        (CH2 )16 CH3

O                                                     CH2OH

CH2       O        C      (CH2 )16CH3 + 3 NaOH          CHOH + 3CH3 ( CH2 )16 COO+ Na+

O                                                      CH2OH

CH2       O       C       (CH2)16CH3

( lemak )                                                ( gliserol )                 ( sabun )

Ditambahkan CaCl2

2CH3       ( CH2 )16         COONa + Ca2+          CH3         (CH2)16       COO2Ca + 2Na+ + Ca

3. Protein

  • Penambahan CuSO4 1% : CuSO4       CH     COOH         CuSO4      CH      COO

 

 

NH                                       NH3  

  • Penambahan HNO3       : HNO3        CH     COOH          HNO3      CH      COO

 

 

NH                                        NH3  

  • Penambahan HgCl2       : HgCl2            CH     COOH          HgCl2       CH      COO

 

 

NH                                       NH3  

  • Penambhan NaOH         : NaOH      CH     COOH          NaOH      CH      COO

 

 

NH                                         NH3  

  • Penambahan Pb(OAc)2 : Pb(OAc)2         CH     COOH          NaOH      CH      COO

 

 

NH                                       NH3  

 

  1. PEMBAHASAN

Pada  praktikum kali ini yaitu tentang koloid dan senyawa karbon I. Dalam percobaan petama pembuatan koloid, ada dua cara pembuatan koloid dengan cara kondensasi dan cara dispersi. Pada percobaan ini dilakukan dengan cara hidrolisis yaitu menghidrolisis senyawa sehingga terbentuk senyawa sukar larut. Bisa dilihat bahwa Fecl3 dimasukkan dalam air yang mendidih maka akan terbentuk Fe(OH)3. Fe(OH)3 lebih cenderung menyarap kelebihan ion Fe3+ karena sesuai struktur kristalnya. Hasil yang dapat dilihat setelah penambahan 11 tetes FeCl3 jenuh warnanya menjadi merah coklat yang semula berwarna jernih, menandakan larutan bersifat asam.

Selanjutnya pada percobaan kedua yaitu dispersi. Cara dispersi adalah dengan  merubah ukuran partikel suatu senyawa menjadi partikel dengan ukuran koloid. Pada percobaan ini dihasilkan filtrat A lebih bening dari pada filtrat B yang warnanya agak keruh. Pada filtrat A hasil yang diperoleh bening karena pada penyaringannyatertahan molekul yang lebih besar karena tidak digerus, sedangkan pada filtrat B larutan berwarna keruh karena amylum digerus dan ketika disaring ada partikel-partikel yang ikut terbawa. Pada filtrat B dilakukan penambahan iodine, warna larutan kemudian berubah menjadi biru tua, menandakan larutan bersifat basa.

Pada percobaan emulsi, aquades yang dicampur benzena tidak tercampur. Aquades dan benzena tidak dapat menyatu karena aquades bersifat polar sedangkan benzena bersifat non polar. Bila aquades yang bersifat polar menjadi pelarut, maka zat terlarut harus bersifat polar juga agar dapat bercampur dan menyatu. Penambahan        Na-Oleat pada larutan Aquades dengan benzena menyababkan kedua zat tersebut tetap terpisah. Benzena dan Na-Oleat tercampur dan berada diatas sedangkan aquades berada dibawah. Hal ini karena fungsi Na-Oleat sebenarnya adalah mempercepat pemisahan antara aquades dengan benzena.

Pada percobaan adsorpsi dengan membuat larutan gula dari campuran air dan gula. Zat terlarut (gula), tidak tampak lagi, tersebar  pada partikel-pertikel yang sangat kecil. Larutan merupakan campuran homogen, stabil, dan tidak dapat disaring. Larutan tersebut kemudian ditambahkan sentengah sendok norit. Norit adalah tablet yang terbuat dari karbon aktif. Setelah ditambahkan norit, dikocok dan dipanaskan dalam air yang mendidih, pemanasan bertujuan menggumpalkan partikel norit dengan partikel gula dalam air. Larutan gula yang semula berwarna bening menjadi hitam, namun setelah disaring masih berwarna hitam. Seharusnya setelah disaring warnanya menjadi bening, hal ini dikarenakan norit berfungsi mengikat molekul gula sehingga molekul norit/karbon aktif dan gula membentuk molekul yang lebih besar dan terbentuklah endapan. Akibatnya ketika disaring larutannya seharusnya menjadi bening, karena endapan norit ditambahkan gula tersaring oleh kertas saring. Kesalahan yanhg terjadi pada praktikan pada saat praktikum.

Pada percobaan lemak, dalam hal ini pembuatan sabun, pertama detergen dilarutkan dengan aquades dan larutan ini dijadikan sebagai pembanding. Setelah diperiksa dengan kertas lakmus, larutan ini bersifat basa karena kertas lakmus merah berubah menjadi biru. Hal ini karena larutan sabun bersifat kaustik, yaitu licin. Sabun adalah garam karboksilat dengan rumus R-COO-Na+.  Anion R-COO, terdiri dari gugus R- yang bersifat non polar. Gugus R- atau ekor non polar tidak larut sehingga akan terionisasi ke pusat. Kemudian ketika ditambahkan dengan 5 mL NaOH 40 % dan 5 mL Na-Oleat serta 5 mL etanol yang fungsinya untuk menyatukan partikel Na-OH dengan Na-Oleat. Ion Na+ yang bertindak sebagai kepala polar dari Na-Oleat (yang terbentuk akibat reaksi antara minyak kelapa dengan NaOH 40%). Pada konsentrasi relatif pekat molekul ini dapat membentuk partikel berukuran koloid yang disebut misel. Zat yang molekulnya bergabung secara sepontan dalam suatu fase pendispersi dan membentuk partikel berukuran koloid yang disebut koloid terasosiasi. Etanol merupakan pelarut organik sehingga dapat melarutkan senyawa organik yang dihasilkan pada reaksi antara NaOH 40% dengan Na-Oleat. Larutan kemudian dipanaskan dan diaduk sehingga menjadi padat. Pemanasan bertujuan untuk menguapkan etanol yang digunakan untuk melarutkan NaOH dengan Na-Oleat. Dengan adanya pemanasan, menyebabkan jumlah tumbukan antara partikel-partikel sol dengan molekul-molekul air bertambah banyak sehingga menyebabkan lepasnya elektrolit yang teradsorpsi pada pemukaan. Sabun yang terbentuk digunakan untuk mencucui tangan dan hasil sabun yang terbentuk berupa detergen setelah dibilas dengan NaCl jenuh dan disaring. Jika masih lengket ditmbahkan alkohol dan NaOH agar senyawa organik didalamnya larut sehingga tidak lengket lagi. Larutan sabun yang sudah dibuat dilarutkan setengahnya ke dalam 100 mL aquades. Dari larutan yang terbentuk ditambahkan 5 mL CaCl2 fungsi CaCl­2 untuk mengendapkan partikel-partikel sabun yang telah dilarutkan, setelah dikocok larutan tersebut menjadi putih susu. Selanjutnya disiapkan 3 tabung reaksi yang berisi aquades + larutan CaCl2, air kran dan aquades. Sebelumnya dibuat larutan dengan melarutkan 1 gram detergen ke dalam 10 mL air. Aquades + CaCl2 ditambahkan 3 tetes larutan detergen, terjadi pengendapan serta larutannya bening diantara air kran yang ditetesi 3 tetes larutan detergen yang masih sedikit agak keruh serta aquades yang ditetesi larutan detergen yang berwarna bening dibanding air kran + larutan sabun. Hal ini terjadi karena pada air kran masih terdapat ion-ion pengganggu sehingga masih keruh, sedangkan pada aquades ion-ion pengganggu sudah didestilasi sehingga larutan terlihat bening.

Pada percobaan protein, putih telur dilarutkan dengan 12 ml air. Dan dilakukan penambahan garam jika larutan belum bening, penambahan garam menyebabkan larutan yang terbentuk menjadi bening. Disiapkan 5 tabung reaksi dan masing-masing diisi dengan 2 mL putih telur. Pada tabung pertama setelah penambahan CuSO4 1% warna berubah menjadi biru dan terdapat gumpalan, dan setelah ditambahkan NaOH larutan berubah menjadi ungu yang menandakan adanya protein dalam larutan. Adanya endapan saat penambahan larutan CuSO4 karena ion Cu2+ adalah salah satu logam berat dan penambahan NaOH juga menyebabkan tidak adanya gumpalan atau endapan lagi. Pada tabung kedua ditambahkan HNO3 pekat setelah dipanaskan terjadi pemisahan dengan gumpalan terdapat diatas dan berwana kuning dengan cairan berada dibawahnya. Setelah didinginkan, ditambah NaOH 6M larutan bercampur menjadi Satu. Hal ini karena merupakan denaturasi protein, yaitu pemecahan amilum menjadi protein. Pada tabung ketiga ditambahkan 1 mL HgCl 1% warnanya menjadi keruh dan terdapat adanya endapan berwarna putih pekat, karena HgCl mengendapkan putih telur dan menjadikannya endapan. Pada tabung keempat ditambahkan 1 mL NaOH 6M warnanya bening dan setelah dipanaskan warna agak kuning, dan ketika dicium baunya menyengat, serta ketika uapnya diperiksa kertas lakmus, warna kertas lakmus menjadi biru. Protein rusak karena pemanasan dan penambahan bahan kimia tertentu (denaturasi protein). Pada tabung kelima ditambahkan Pb(OAc)2 dan 1 mL NaOH 6M, warna larutan putih telur + Pb(OAc)2 larutannya menggumpal dan berwarna putih susu, dan ketika ditambahkan NaOH larutannya kembali bening seperti semula. Setelah dilakukan pemanasan larutan berubah menjadi hitam pekat dan terdapapt endapan berwarna hitam. Hal ini karena adaanya timbal atau Pb yang bersifat toksik (racun). Timbal diperoleh dari reduksi timbal (II) sulfida yang dipanaskan.

 

  1. KESIMPULAN

Berdasarkan percobaan yang dilakukan dan pengamatan, diperoleh beberapa kesimpulan.

  • Cara dispersi yaitu pembuatan koloid dengan mengubah ukuran partikel besar menjadi lebih kecil.
  • Cara kondensasi yaitu pembuatan koloid dengan mengubah ukuran koloid menjadi lebih besar.
  • Emulsi adalah sistem koloid dari zat cair terdispersi dalam zat cair lain.
  • Adsorpsi adalah kemampuan koloid menyerap ion pada permukaan partikel koloid.
  • Sabun yang dibuat dengan campuran Na-Oleat memiliki sifat kaustik, larutan sabun merupakan larutan basa.
  • Denaturasi protein adalah rusaknya protein akibat perubahan suhu dan penambahan zat kimia tertentu.

Bresnick, Stephen. 2002. Kimia Umum. Jakarta : Hipokrates.

Fajar, Crys. 2003. Kimia Organik Universitas. Yogyakarta : UNY.

Glorier. 2004. Ilmu pengetahuan Populer. Jakarta : PT. Ikrar Mandiri Abadi.

Harjadi, W. 2000. Kimia Universitas. Jakarta : Gramedia.

Karamah, Eva F dan Andrie Oktafauzan Lubis. Pralakuan Koagulasi Dalam Proses Pengolahan Air Dengan Membran: Pengaruh Waktu Pengadukan Pelan Koagulan Aluminium Sulfat Terhadap Kinerja Membran. Jakarta : Fakultas Teknik Universitas Indonesia.

Sukardjo. 2003. Kimia Organik. Yogyakarta : PT. Rhineka Cipta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s